Sultan Salman Abdul Aziz, “Jejak” Islam di Luar Angkasa ( Ilmu Alamiah Dasar dan Matematika )

Gambar

Sultan Salman Abdul Aziz lahir 27 Juni 1956, di Riyadh, Arab Saudi. Menikah. Gemar rekreasi termasuk ski salju, scuba diving, berkuda, jogging, racketball, dan berenang. Beliau menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di Riyadh, Arab Saudi. Kemudian melanjutkan studi komunikasi dan penerbangan di Amerika Serikat. Pada tahun 1982 ia diangkat ke posisi peneliti di Departemen Komunikasi Internasional di Kementerian Informasi di Arab Saudi. Dia adalah astronot pertama berdarah bangsawan, dan orang Muslim pertama dari Arab yang terbang ke luar angkasa.

Sultan bin Salman memulai karirnya pada tahun 1982 sebagai peneliti di departemen komunikasi internasional di Kementerian Informasi di Arab Saudi . Masa jabatannya berlangsung hingga 1984 . Ia menjabat sebagai wakil direktur komite media Saudi untuk atlet Saudi berpartisipasi dalam Olimpiade di Los Angeles 1984 . Belakangan tahun itu , departemen iklan TV dibuat di Kementerian Informasi , dan ia diangkat sebagai direktur akting nya .

Beliau adalah mantan pilot Kerajaan Saudi Air Force yang terbang di atas kapal misi STS-51-G pada tahun 1985, ia terbang sebagai Spesialis Payload dan anggota House of Saud pada STS-51G Discovery (17-24 Juni 1985). Sebagai salah satu kru internasional yang bermuatan tujuh anggota, yang juga termasuk astronot Amerika dan Perancis, ia mewakili Arab Communications Satellite Organization (Arabsat) dalam mengembangkan satelit mereka, Arabsat-1B.

Setelah penerbangan ruang angkasa tersebut, ia membantu dalam mendirikan Asosiasi Penjelajah Ruang Angkasa, sebuah organisasi internasional yang terdiri dari semua astronot dan kosmonot yang telah berada di ruang angkasa, dan bertugas di Dewan Direksi selama beberapa tahun.

Pada tahun 1985, Sultan rekaman iklan komersial yang disiarkan di MTV selama konser acara Live Aid. Pesannya menceritakan tentang perjalanan baru-baru ini pada Space Shuttle dan merupakan salah satu dari 33 anggota yang terkenal termasuk Caesar Chavez, Coretta Scott King, Carl Sagan, Jesse Jackson dan Peter Ueberroth. Sultan bin Salman disajikan di awal Kerajaan Saudi Air Force pada tahun 1985 dan berpangkat letnan kolonel.

Pada tahun 1985 dia ditugaskan sebagai seorang perwira ke Royal Saudi Air Force. Dia memegang pangkat Letnan Kolonel, dan memenuhi syarat dalam beberapa pesawat militer dan sipil.

Selama beberapa tahun ia memimpin Komite Penasihat untuk Sains Oasis Proyek yang akan dibangun di Riyadh.

Pada tahun 1989 dan kemudian lagi pada tahun 1992 dia terpilih untuk posisi Ketua Asosiasi Kebajikan Saudi untuk Anak-anak penyandang cacat, di mana ia juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina untuk Salman Pusat Pangeran Penelitian penyandang cacat.

Pada tahun 1991 ia menerima undangan dari Dewan Direksi Saudi Computer Society untuk menjadi Ketua Kehormatan, dan pada tahun 1993 karena minat khusus dalam arsitektur ia setuju untuk melayani sebagai Presiden Kehormatan Asosiasi Saudi Al-Umran (masyarakat spesialis di bidang lingkungan binaan).

Sultan bin Salman menjadi Sekretaris Jenderal Komisi Agung untuk Pariwisata dan Purbakala (SCTA) pada tahun 2000 ketika SCTA didirikan. Istilah-Nya layanan diperpanjang selama empat tahun pada bulan Februari 2008. Hal ini menyatakan bahwa sebagai Sekretaris Jenderal SCTA, ia memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan strategi pariwisata Arab Saudi. Dia sebenarnya dianggap sebagai menteri pariwisata dari Arab Saudi.

Dia pensiun dari angkatan udara pada tahun 1996 dengan pangkat kolonel.

 

Gambar

Islam mencapai puncak kejayaannya pada era pemerintahan Daulah Abbasiyah, terutama pada bidang ilmu pengetahuan. Nyaris tak ada sejengkal pun dari bilik-bilik ilmu ini yang tidak tersentuh oleh umat Islam. Termasuk ilmu tentang dunia luar angkasa. Nashiruddin ath-Thusi dan al-Biruni adalah sebagian dari sosok yang cukup dikenal kepakarannya dalam bidang ini.

Jadi sebelum ilmuwan Barat bergelut di dalamnya, para ilmuwan Islam telah lebih dulu mendalami dan mengakrabi dunia angkasa luar. Meski tak semaju dengan capaian ilmuwan Barat, tapi dari hasil kajian ilmuwan Muslimlah pintu-pintu menuju kemajuan terbuka satu demi satu.

Bintang, bulan, dan matahari adalah obyek penelitian yang paling menarik perhatian para ilmuwan Muslim kala itu. Pasalnya, Al-Quran mengabarkan bahwa ketiga ciptaan Allah ini mempunyai fungsi yang luar biasa. Bintang misalnya, Allah menciptakannya sebagai petunjuk dalam menentukan arah.

Inilah yang coba diteliti oleh ilmuwan Muslim ketika itu. Dari hasil kajian dunia luar angkasa, beragam kemudahan bisa dinikmati umat Islam saat itu. Satu persatu hikmah dan manfaat di balik penciptaan bintang berhasil terkuak. Yang paling sangat bermanfaat adalah cara dalam menjadikan bintang sebagai penunjuk arah.

Jelas saja hasil itu berpengaruh besar dalam kehidupan umat Islam saat itu. Sektor perekonomian termasuk yang paling merasakan berkahnya. Perjalanan bisnis para saudagar Arab yang kerap tersendat oleh pekatnya malam, kini sudah mulai teratasi.  Dengan adanya penunjuk arah, hamparan padang pasir yang berselimutkan gelapnya malam bukan lagi ‘penyesat’ yang perlu ditakuti. Begitu juga para nelayan yang mencari ikan di hamparan laut luas.

Kita juga mengakui bahwa sebagian dari ilmu perbintangan ini dikecam oleh para ulama. Namun, jika kita perhatikan buku akidah, maka yang diharamkan adalah ilmu perbintangan yang digunakan untuk meramal perkara-perkara yang belum terjadi, seperti meramal nasib atau kejadian tertentu yang sifatnya ghaib bagi manusia. Lain halnya jika ia digunakan untuk kepentingan menentukan arah. Dalam fungsi ini hukumnya mubah-mubah saja. Al-Quran sendiri melegalkannya. Bahkan, hukum itu bisa berubah menjadi mustahab atau wajib jika digunakan untuk menentukan arah kiblat.

Bukti Sejarah

Di perpustakaan Eropa, kita bisa menemukan bukti bahwa sumbangsih ilmuwan Muslim dalam ilmu luar angkasa bukan omong kosong. Khususnya yang berkaitan dengan penamaan bintang. Seorang penulis Barat bernama Paul Kunitzsch menemukannya dalam buku Almagest karya Ptolomeus tentang penamaan bintang “Fomalhault” . Nama itu berasal dari bahasa Arab, “famul haut” yang berarti mulut ikan hiu. Muslim Heritage Foundation bahkan mencatat ratusan nama bintang yang berasal dari Bahasa Arab.

Tapi begitulah siklus kehidupan yang diinginkan pencipta-Nya. Allah akan mempergilirkan kejayaan itu berdasarkan usaha dan kerja keras setiap kaum. Itulah yang terjadi pada rezim Abbasiyah. Pemerintahan yang semakin melemah memaksa perkembangan ilmu pengetahuan kembali masuk ke jalur lambat. Apa yang telah dirintis oleh para ilmuwan kita seolah kehilangan induknya karena tak lagi mendapat nafkah perhatian yang memadai. Salah satu yang mengalami nasib malang itu adalah ilmu angkasa luar.

Lahir kembali

Berabad abad terlelap tidur, akhirnya kejayaan Islam di luar angkasa yang nyaris terkubur itu seolah lahir kembali. Sultan Salman Abdul Aziz adalah aktor utamanya. Pria berkebangsaan Arab Saudi ini tak lagi mengamati ciptaan Allah di luar angkasa dari bumi. Ia melihatnya dalam radius yang lebih dekat.

Pada tahun 1985, ia berangkat ke luar angkasa sebagai peneliti mewakili organisasi satelit Arab. Keberangkatannya tentu saja mengangkat prestise umat Islam di dunia internasional. Pasalnya, pria yang tak lain cucu pendiri Kerajaan Arab Saudi ini menjadi orang Islam pertama yang berhasil menembus luar angkasa.

Ia melayang di dunia yang sangat asing ini selama delapan hari. Sepulang dari luar angkasa Sultan bukannya istirahat. Pria kelahiran Riyadh, 27 Juni 1956 ini bersama beberapa orang temannya, langsung mendirikan Association of Space Explorers. Lembaga bertaraf internasional ini mewadahi para astronot yang pernah mengangkasa. Sultan menjadi orang penting di dalamnya.

Keinginan mengembalikan kejayaan Islam di luar angkasa juga ikut menjalar sampai ke negeri jiran. Pemerintah Malaysia selalu menunggu waktu yang tepat untuk mengirim putra terbaiknya ke luar angkasa. Dan saat yang dinanti pun tiba. Pada tahun 2005, pemerintah Malaysia memutuskan untuk membuat program mengirim angkasawan ke Rusia. Mereka belajar di sana sebelum terbang.

Rencana besar ini tidak dilakukannya dengan sembrono. Pendaftaran memang terbuka, tapi seleksinya diperketat. Jumlah pendaftar mencapai 11.000 orang. Mereka mengikuti sembilan tahap seleksi, sampai akhirnya hanya terpilih sepuluh di antara mereka yang layak pergi ke Rusia untuk memperdalam ilmu angkasa di sana. Dari sepuluh orang yang dikirim, Rusia memutuskan untuk memilih satu saja di antara mereka yang layak pergi menjalankan misi di luar angkasa.

Keberuntungan itu jatuh pada Dr Sheikh Muszafhar Shukor. Pria yang sehari-harinya bekerja di sebuah rumah sakit di Malaysia, berhasil menyisihkan ribuan pesaingnya.  Ia akhirnya meluncur ke angkasa pada tanggal 10 Oktober 2007 lalu.  Sesuai dengan keahliannya sebagai dokter bedah ortopedik, di luar angkasa ia menjalani eksperimen yang terkait dengan bedah tulang.

Shalat di Luar Angkasa

Penelitian bukanlah satu-satunya misi Sheikh Muszafhar di luar angkasa. Ia juga membawa misi relijius yang sangat penting. Ia ingin melaksanakan shalat di luar angkasa, sekaligus mengabarkan kepada dunia bahwa shalat adalah ibadah yang sangat agung. Ibadah yang tidak boleh ditinggalkan kapan dan di mana saja, termasuk ketika berada di luar angkasa.

Bersama tiga astronot lainnya, ia mengangkasa selama 12 hari. Waktu itu umat Islam di bumi sedang menjalankan ibadah puasa. Sebagai orang Islam, Sheikh tetap menjalankan ibadah itu meski berada ribuan mil dari bumi. Dan ia mengaku, berpuasa di langit jauh lebih nyaman dan khusyuk. Selain karena tidak merasa haus, lapar, atau lelah, ia juga bisa melihat beragam tanda-tanda kekuasaan Allah.

Di angkasa, Sheikh menjalankan sejumlah eksperimen yang diamanahkan kepadanya. Di atas sana, ia menjalankan fungsinya sebagai dokter dengan penelitian-penelitian biologis dan kimiawinya. Menurut Sheikh, 12 hari ternyata tidak cukup panjang untuk menjalankan semua eksperimennya.

Sheikh tidak bisa menyembunyikan rasa puas dari perjalanannya ini. Bukan saja karena ia berhasil melakukan penelitian, sebagaimana yang ia rencanakan. Di luar angkasa ia bisa menjumpai banyak sekali tanda kekuasaan Allah. Yang tak mungkin terlupakan, ketika ia mendengar suara adzan di sana.

“Saya seperti menemukan kedamaian yang berbeda. Percaya atau tidak, di hari terakhir sewaktu kami hendak turun ke bumi, saya mendengar suara adzan,” kisahnya. Rasa syukur dan senang Sheikh semakin berlipat karena ia  merasa keberangkatannya tak sekedar mewakili negaranya, tapi juga dunia Islam.

 

Gambar

Gambar

Mengenai hubungan antara negara dan masyarakat, ia berpendapat bahwa Setiap warga negara dari negara ini adalah orang yang bertanggung jawab. Berikut negara adalah warga negara dan warga negara adalah negara. Tidak ada pembagian antara pimpinan dan warga.

Sultan bin Salman menikah dengan putri Saud bin Faisal, Menteri Luar Negeri Arab Saudi. Mereka memiliki tiga anak. Anaknya, Salman (lahir 1990), lulusan St . Universitas Andrew di Skotlandia, dan menikah dengan seorang putri dari Pangeran Khalid bin Saud Al Saud, a-cucu besar Mohammed bin Abdul Rahman, di Riyadh pada tanggal 5 Desember 2012.

Pangeran Sultan memiliki sebuah peternakan di Diriyah yang merupakan model dari fasilitas modern dalam latar belakang sejarah. Pertanian mencerminkan usahanya untuk menelusuri asal-usul dari keluarga Al Saud, dan untuk mendokumentasikan klaim Al Saud atas Najd.

Pangeran Sultan dianugerahi Medal Kanselir oleh Syracuse University (SU) pada bulan November 2012 untuk peran kunci dalam membantu untuk meluncurkan kemitraan kolaboratif antara SU dan Princess Nora binti Abdul Rahman University.

 

Sumber :

http://en.wikipedia.org/wiki/Sultan_bin_Salman_Al_Saud

http://www.fiqhislam.com/index.php?option=com_content&view=article&id=10821:sultan-salman-abdul-aziz-jejak-islam-di-luar-angkasa-&catid=45:tokoh&Itemid=357

http://www.jsc.nasa.gov/Bios/htmlbios/al-saud.html

 

 

 

R.Rr. Andina Ajeng Ranaputri

17513071

1PA12

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s