ILMU BUDAYA DASAR KE-2 2013

Saya lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kota Banjarmasin adalah kampung halaman ibu saya. Letak Kota Banjarmasin nyaris berada di tengah-tengah Indonesia.

Kota Banjarmasin berlokasi daerah kuala sungai Martapura yang bermuara pada sisi timur sungai Barito. Kota Banjarmasin merupakan ibu kota dari provinsi Kalimantan Selatan.

Kota yang terpadat di Kalimantan ini termasuk salah satu kota besar di Indonesia, walau luas nya terkecil di kalimantan, yakni luasnya lebih kecil dari Jakarta Barat. Kota yang dijuluki sebagai kota seribu sungai merupakan kota kepulauan, sebab terdiri dari sedikitnya 25 buah pulau kecil yang merupakan bagian-bagian kota yang dipisahkan oleh sungai-sungai, diantaranya Pulau Tatas, Pulau Kelayan, Pulau Rantauan Keliling.

Di artikel ini saya akan menjelaskan sedikit tentang kebudayaan saya, yaitu kebudayaan Banjar. Kemudian saya akan mencoba analisis mengapa kebudayaan Banjar mulai kurang diminati atau bahkan ditinggalkan oleh generasi muda. Terakhir, saya akan mencoba memberikan beberapa solusi yang mungkin bermanfaat untuk membangkitkan kembali kebudayaan Banjar dan dkenali oleh kalangan remaja saat ini.
KEBUDAYAAN DAERAH SUKU BANJAR
Secara linguistik suku Banjar serumpun dengan Dayak Kendayan, Dayak Iban, dan rumpun Melayu Lokal (termasuk Dayak Meratus) yaitu rumpun bahasa Melayik. Mitologi suku dayak Meratus menyatakan bahwa suku Banjar dan suku Bukit merupakan keturunan dari dua kakak beradik yaitu si Ayuh yang menurunkan suku Bukit(dayak meratus) dan Bambang Basiwara yang menurunkan suku Banjar. Dalam khasanah cerita prosa berbahasa Dayak Meratus ditemukan legenda yang sifatnya mengakui atau melegalkan keserumpunan genetika antara orang Banjar dengan orang Dayak Meratus. Dalam cerita prosa rakyat berbahasa Dayak Meratus dimaksud terungkap bahwa nenek moyang orang banjar adalah adik nenek moyang orang Dayak Meratus, sang adik digambarkan sebagai adik yang berfisik lemah tapi berotak cerdas, sedangkan kakak digambarkan berfisik kuat dan jago berkelahi. Orang Banjar merupakan keturunan Dayak yang telah memeluk Islam, kemudian mengadopsi kebudayaan Jawa, Bugis, Melayu, dan Cina.
Suku bangsa Banjar diduga berasal mula dari penduduk asal Sumatera atau daerah sekitarnya, yang membangun tanah air baru di kawasan Tanah Banjar (sekarang wilayah provinsi Kalimantan Selatan) sekitar lebih dari seribu tahun yang lalu. Setelah berlalu masa yang lama sekali akhirnya, setelah bercampur dengan penduduk yang lebih asli, yang biasa dinamakan sebagai suku Dayak, dan dengan imigran-imigran yang berdatangan belakangan–terbentuklah setidak-tidaknya tiga subsuku, yaitu (Banjar) Pahuluan, (Banjar) Batang Banyu, dan Banjar (Kuala).
UNSUR KEBUDAYAAN SUKU BANJAR
Suku Banjar merupakan penduduk asli sebagian wilayah propinsi Kalimantan Selatan. Mayoritas masyarakatnya menganut agama Islam. Pengkategorian atas berbagai sistem kepercayaan yang ada ini dalam masyarakat Banjar sebagian berdasarkan atas kesatuan-kesatuan sosial yang menganutnya.

Dalam ungkapan lain, istilah Islam Banjar setara dengan istilah-istilah berikut: Islam di Tanah Banjar, Islam menurut pemahaman dan pengalaman masyarakat Banjar, Islam yang berperan dalam masyarakat dan budaya Banjar, atau istilah-istilah lain yang sejenis, tentunya dengan penekanan-penekanan tertentu yang bervariasi antara istilah yang satu dengan lainnya.

Kepercayaan yang berasal dari ajaran Islam bukanlah satu-satunya kepercayaan religius yang dianut masyarakat Banjar, sistem ritual dan sistem upacara yang diajarkan Islam bukanlah satu-satunya sistem upacara yang dilakukan. Keseluruhan kepercayaan yang dianut orang Banjar menurut beberapa Sejarawan Banjar telah dibedakan menjadi tiga kategori.

Yang pertama ialah kepercayaan yang bersumber dari ajaran Islam. Isi kepercayaan ini tergambar dari rukun iman yang ke enam.

Kedua, kepercayaan yang berkaitan dengan struktur masyarakat Banjar pada zaman dahulu, yaitu pada masa sultan-sultan dan sebelumnya. Orang-orang Banjar pada waktu itu hidup dalam lingkungan keluarga luas, yang dinamakan bubuhan dan juga bertempat tinggal dalam lingkungan, bubuhan pula. Kepercayaan demikian ini selalu disertai dengan keharusan bubuhan melakukan upacara tahunan, yang biasa dinamakan sebagai aruh tahunan.

Ketiga, kepercayaan yang berhubungan dengan beragam tafsiran dari masyarakat atas alam lingkungan sekitarnya, yang mungkin adakalanya berkaitan pula dengan kategori kedua.kepercayaan. Untuk kategori pertama mungkin lebih baik dinamakan kepercayaan Islam, kategori kedua kepercayaan bubuhan dan kategori ketiga kepercayaan lingkungan.
Melihat corak ekonominya, maka dapat dibagi menjadi beberapa sub bidang yaitu:
1. Pertanian

Kehidupan masyarakat Banjar tidak lepas dengan kehidupan agrarisnya, mengingat kebanyakan penduduk Kal-Sel menyandarkan pendapatannya dalam bidang ini, walaupun untuk usaha sampinganpun juga dilakukan apalagi bagi penduduk yang bertempat tinggal didataran rendah, dataran tinggi, rawa dan dekat sungai.
2. Berkebun

Berkebun merupakan kegiatan masyarakat yang dilakukan di dataran rendah dan di dataran tinggi sesuai dengan geografis wilayahnya, usaha berkebun ini sebagai usaha jangka panjang yang dilakukan.
3. Perikanan

1.         Perikanan darat

2.         Perikanan disungai besar

3.         Kumpai Paiwakan
4. Peternakan

1.         Peternakan kerbau atau hadangan (dilakukan di daerah dataran rendah dan dataran tinggi)

2.         Peternakan sapi

3.         Peternakan itik

4.         Peternakan ayam rumah
5. Meramu

Kegiatan meramu yang ada di masa sekarang ini yaitu:

1.         Meramu galam

2.         Meramu kapur naga, papung, dan balangiran.

3.         Meramu halayung dan sirang

4.         Meramu rotan
6. Kerajinan tangan

Ada beberapa jenis kerajinan yang berkembang di Kalimantan Selatan antara lain:

1.         Penggosokan intan dan batu-batu alam

2.         Kerajinan dengan media daun-daunan (misalnya daun rumbia)

3.         Kerajinan rotan

4.         Kerajinan jangkang

5.         Pertukangan rumah

6.         Tukang mas

7.         Kerajinan kuningan

8.         Pandai besi

9.         Kerajinan gerabah

10.     Kerajinan pembuatan kain tradisional

11.     Kerajinan pembuatan alat penangkap ikan

12.     Pembuatan anyaman purun

13.     Kerajinan sulam-menyulam dan membordir

14.     Pembuatan kue-kue tradisional

15.     Kerajinan anyaman bambu
7. Kegiatan perdagangan

Kegiatan perdagangan ini berkembang pada masyarakat yang bertempat tinggal di bantaran sungai, bidangnya sendiripun ada berbagai macam perdagangan yang dijalankan oleh masyarakatnya sesuai dengan tingkat keperluan.

Namun, ada ciri khas dalam kegiatan berdagang itu sendiri yakni dikenalnya system penyambangan atau pembalantikan (sebagai pedagang perantara antara produsen utama dengan konsumen tingkat lanjut yang biasanya menunggu ditempat-tempat tertentu untuk membeli secara langsung barang-barang yang akan dijual langsung dari produsen.
Kultur budaya yang berkembang di Banjarmasin sangat banyak hubungannya dengan sungai, rawa, dan danau, di samping pegunungan. Tumbuhan dan binatang yang menghuni daerah ini sangat banyak dimanfaatkan untuk memenuhi kehidupan mereka.

Kebutuhan hidup mereka yang mendiami wilayah ini dengan memanfaatkan alam lingkungan dengan hasil benda-benda budaya yang disesuaikan. hampir segenap kehidupan mereka serba religius.

Di samping itu, masyarakatnya juga agraris, pedagang dengan dukungan teknologi yang sebagian besar masih tradisional.
Urang Banjar mengembangkan sistem budaya, sistem sosial dan material budaya yang berkaitan dengan relegi, melalui berbagai proses adaptasi, akulturasi, dan asimilasi.

Sehingga tampak terjadinya pembauran dalam aspek-aspek budaya. Meskipun demikian pandangan atau pengaruh Islam lebih dominan dalam kehidupan budaya Banjar, hampir identik dengan Islam, terutama sekali dengan pandangan yang berkaitan dengan ketuhanan (Tauhid), meskipun dalam kehidupan sehari-hari masih ada unsur budaya asal, Hindu dan Buddha.
Seni ukir dan arsitektur tradisional Banjar tampak sekali pembauran budaya, demikian pula alat rumah tangga, transportasi, tari, nyanyian, dan sebagainya.
Masyarakat Banjar telah mengenal berbagai jenis dan bentuk kesenian, baik Seni Klasik, Seni Rakyat, maupun Seni Religius Kesenian yang menjadi milik masyarakat Banjar
.

Seni tari daerah Banjar yang terkenal misalnya:
Tari Baksa Kembang, dalam penyambutan tamu agung.

Tari Baksa Panah

Tari Baksa Dadap

Tari Baksa Lilin

Tari Baksa Tameng

Tari Radap Rahayu

Tari Kuda Kepang

Tari Japin/Jepen

Tari Tirik Kuala

Tari Gandut

Tari Tirik

Tari Babujugan

Tari Jepen Lenggang Banua

Tari Japin Hadrah

Tari Kambang Kipas

Tari Balatik

Tari Parigal Amban

Tari Tameng Cakrawati

Tari Alahai Sayang

Seni Karawitan

Gamelan Banjar

Gamelan Banjar Tipe Keraton Gamelan

DaerahLagu daerah Banjar yang terkenal misalnya :
Ampar-Ampar Pisang, Sapu Tangan Babuncu Ampat, Paris Barantai

Lagu Banjar lainnya

BanjarTimang Banjar (Malaysia)

Banjarmasin (Melayu Deli)

Seni Rupa DwimatraSeni AnyamanSeni anyaman dengan bahan rotan, bambu dan purun sangat artistik. Anyaman rotan berupa tas dan kopiah.
Seni Lukisan KacaSeni lukisan kaca berkembang pada tahun lima puluhan, hasilnya berupa lukisan buroq, Adam dan Hawa dengan buah kholdi, kaligrafi masjid dan sebagainya. Ragam hiasnya sangat banyak diterapkan pada perabot berupa tumpal, sawstika, geometris, flora dan fauna.
Seni Tatah/UkirSeni ukir terdiri atas tatah surut (dangkal) dan tatah babuku (utuh). Seni ukir diterapkan pada kayu dan kuningan. Ukiran kayu diterapkan pada alat-alat rumah tangga, bagian-bagian rumah dan masjid, bagian-bagian perahu dan bagian-bagian cungkup makam. Ukiran kuningan diterapkan benda-benda kuningan seperti cerana, abun, pakucuran, lisnar, perapian, cerek, sasanggan, meriam kecil dan sebagainya. Motif ukiran misalnya Pohon Hayat, pilin ganda, swastika, tumpal, kawung, geometris, bintang, flora binatang, kaligrafi, motif Arabes dan Turki.
Pencak Silat Kuntau BanjarPencak Silat Kuntau Banjar adalah ilmu beladiri yang berkembang di Tanah Banjar dan daerah perantauan suku
Seni Rupa Trimatra (Rumah Adat)Rumah adat Banjar ada beberapa jenis, tetapi yang paling menonjol adalah Rumah Bubungan Tinggi yang merupakan tempat kediaman pangeran/raja (keraton). Jenis rumah yang ditinggali oleh seseorang menunjukkan status dan kedudukannya dalam masyarakat. Jenis-jenis rumah Banjar:
Rumah Bubungan Tinggi, kediaman rajaRumah Gajah Baliku, kediaman saudara dekat rajaRumah Gajah Manyusu, kediaman “pagustian” (bangsawan)Rumah Balai Laki, kediaman menteri dan punggawaRumah Balai Bini, kediaman wanita keluarga raja dan inang pengasuhRumah Palimbangan, kediaman alim ulama dan saudagarRumah Palimasan (Rumah Gajah), penyimpanan barang-barang berharga (bendahara)Rumah Cacak Burung (Rumah Anjung Surung), kediaman rakyat biasaRumah Tadah AlasRumah Lanting, rumah di atas airRumah Joglo Gudang
Jukung adalah transportasi khas Kalimantan. Ciri khasnya terletak pada teknik pembuatannya yang mempertahankan sistem pembakaran pada rongga batang kayu bulat yang akan dibuat menjadi jukung. Jenis Jukung:
Jukung Sudur (rangkaan)

Jukung Sudur Biasa

Jukung Sudur Bakapih

Jukung Sudur Anak Ripang

Jukung PataiJukung Biasa

Jukung Hawaian

Jukung Kuin

Jukung Pelanjan

Jukung Ripang Hatap

Jukung Pemadang

jukung Batambit

Jukung Tambangan

Jukung Babanciran

Jukung Undaan

Jukung ParahanJukung Gundul

Jukung Pandan Liris

Jukung Tiung

Wayang Banjar

Wayang Banjar terdiri dari:

Wayang kulit Banjar

Wayang gung/wayang Gong yaitu (wayang orang versi suku Banjar)

Mamanda

Mamanda merupakan seni teater tradisonal suku Banjar.
Tradisi BananagaanNaga BadudungKepala Naga Gambar SawitKepala Naga Darat
ANALISIS
Budaya Banjar belakangan mulai ditinggalkan oleh generasi muda Banjar. Akibat dari pengaruh masuknya globalisasi dan individualisme menjadi beberapa pengaruh rendahnya apresiasi dan minat terhadap budaya banjar saat ini.Di zaman sekarang kebanyakan remaja tidak peduli dengan kebudayaannya masing-masing. Mereka lebih memilih mempelajari tarian modern, bahkan bergaya hidup ke barat-baratan. Padahal jika sampai kebudayaan kita hilang,kita sudah tidak mempunyai ciri khas tersendiri dari daerah tersebut.Di samping kurangnya kesadaran dari kita, kita juga kurang peduli dengan kebudayaan yang kita punya. Padahal kalau kita kembangkan serta melestarikannya kita akan menjadi bangsa yang penuh warna. Kita sudah memiliki ragam budaya,bahasa,dll. Mari kita bangun Bangsa kita tercinta demi kemajuan yang lebih baik, sebelum terlambat atau saksikan kebudayaan kita punah tanpa bekas dan hanya jadi cerita legenda belaka yang nantinya juga akan terhapus dari memori anak cucu kita nanti atas nama modernitas dan kemajuan zaman. Yang seharusnya menjadi bahan perenungan mengapa adalah kenapa remaja yang di salahkan jika tidak tertarik pada kesenian tradisional jika sistemnya sudah jelas seperti di Bali, tentu remaja pun ada saja yang tertarik mempelajari kesenian tradisional. Apapun motivasinya.Para remaja saat ini cenderung menyukai sampai meniru kebudayaan luar. Adanya fasilitas seperti internet, televisi, radio, majalah yang banyak menampilkan kebudayaan asing, membuat para remaja tidak dapat membendung rasa keingintahuan mereka untuk mencoba dan meniru kebudayaan asing tersebut. Sehingga kebudayaan lokal menjadi tidak mereka sukai, dan mereka cenderung menganggap kebudayaan lokal sebagai kebudayaan kuno atau ketinggalan jaman, sedangkan kebudayaan asing mereka anggap sebagai kebudayaan yang modern & maju.Kebudayaan luar seharusnya di sikapi dengan cermat, apakah kebudayaan asing ini bertentangan dengan kebudayaan lokal atau tidak, bukan langsung diterima begitu saja. Jika tidak bertentangan dengan lokal kita bisa mengolah kebudayaan asing tersebut dengan kebudayaan lokal, dan menciptakan suatu perpaduan yang unik sehingga para remaja tidak merasa bosan dengan kebudayaan lokal.Kebudayaan daerah merupakan kesenian tradisional yang di miliki oleh setiap daerah, maupun suku yang ada di Indonesia. Mempromosikan kebudayaan.

 

sumber : http://id.m.wikipedia.org/wiki/Seni_tradisional_Banjar

 

http://vvitizue.blogspot.com/2013/02/unsur-unsur-kebudayaan-suku-banjar.html

 

http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Selatan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s